Lanjutan ayat-ayat cinta halaman 31-40
belakang yang diingat sampai tujuh keturunan seperti orang Jawa. Mereka mudah
menerima kebenaran dari siapa saja.
Metro terus melaju. Tak terasa sudah sampai mahattah Mar Girgis. Ashraf
mendekatkan diri ke pintu. Ia bersiap-siap. Mahattah depan adalah El-Malik El-
Saleh, setelah itu Sayyeda Zeinab dan ia akan turun di sana. Aku menghitung
masih ada tujuh mahattah baru sampai di Ramsis. Setelah itu aku akan pindah
metro jurusan Shubra El-Khaima. Perjalanan masih jauh. Metro kembali berjalan.
Pelan-pelan lalu semakin kencang. Tak lama kemudian sampai di El-Malik El-
Saleh. Metro berhenti. Pintu dibuka. Beberapa orang turun. Lelaki setengah baya
hendak turun. Sebelum turun ia menyalami diriku dan mengucapkan terima kasih
sambil mulutnya tiada henti mendoakan diriku. Aku mengucapkan amin berkali-
kali. Topi dan kaca mata hitamku kembali aku pakai. Tak jauh dariku, perempuan
bercadar nampak asyik berbincang dengan perempuan bule. Sedikit-sedikit
telingaku menangkap isi perbincangan mereka. Rupanya perempuan bercadar
sedang menjelaskan semua yang tadi terjadi. Kejengkelan orang-orang Mesir pada
Amerika. Kekeliruan mereka serta pembetulan-pembetulan yang aku lakukan.
Perempuan bercadar juga menjelaskan maksud dari hadits-hadits nabi yang tadi
aku ucapkan dengan bahasa Inggris yang fasih. Perempuan bule itu mengangguk-
anggukkan kepala. Sampai di Sayyeda Zeinab, Ashraf turun setelah terlebih
dahulu melambaikan tangan padaku. Seorang ibu yang duduk di samping nenek
bule turun. Kursinya kosong. Aku bisa duduk di sana kalau mau. Tapi kulihat
seorang gadis kecil membawa tas belanja masuk. Langsung kupersilakan dia
duduk.
Metro kembali melaju. Perempuan bercadar dan perempuan bule masih
berbincang-bincang dengan akrabnya. Tapi kali ini aku tidak mendengar dengan
jelas apa yang mereka perbincangkan. Angin panas masuk melalui jendela. Aku
memandang ke luar. Rumah-rumah penduduk tampak kotak-kotak tak teratur
seperti kardus bertumpukan tak teratur. Metro masuk ke lorong bawah tanah.
Suasana gelap sesaat. Lalu lampu-lampu metro menyala. Tak lama kemudian
metro sampai mahattah Saad Zaghloul dan berhenti. Beberapa orang turun dan
naik. Tiga bule itu bersiap hendak turun, juga perempuan bercadar. Berarti mereka
mau turun di Tahrir. Perempuan bercadar masih bercakap dengan perempuan
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
31
bule. Keduanya sangat dekat denganku. Aku bisa mendengar dengan jelas apa
yang mereka bicarakan. Tentang asal mereka masing. Perempuan bercadar itu
ternyata lahir di Jerman, dan besar juga di Jerman. Namun ia berdarah Jerman,
Turki dan Palestina. Sedangkan perempuan bule lahir dan besar di Amerika. Ia
berdarah Inggris dan Spanyol. Keduanya bertukar kartu nama.
Perempuan bule tepat berada di depanku. Wajahnya masih menghadap
perempuan bercadar. Metro bercericit mengerem. Gerbong sedikit goyang. Tubuh
perempuan bule bergoyang. Saat itulah dia melihat diriku. Ia tersenyum sambil
mengulurkan tangannya kepadaku dan berkata,
“Hai Indonesian, thank’s for everything. My name’s Alicia.”
“Oh, you’re welcome. My name is Fahri,” jawabku sambil menangkupkan
kedua tanganku di depan dada, aku tidak mungkin menjabat tangannya.
“Ini bukan berarti saya tidak menghormati Anda. Dalam ajaran Islam,
seorang lelaki tidak boleh bersalaman dan bersentuhan dengan perempuan selain
isteri dan mahramnya.” Aku menjelaskan agar dia tidak salah faham.
Alicia tersenyum dan berseloroh, “Oh, never mind. And this is my name
card, for you.” Ia memberikan kartu namanya.
“Thank’s,” ujarku sambil menerima kartu namanya.
“It’s a pleasure.”
Metro berhenti.
Alicia, neneknya dan saudaranya mendekati pintu hendak keluar.
Perempuan bercadar masih berdiri di tempatnya. Ia melihat ke arah orang-orang
yang hendak turun. Perlahan pintu dibuka. Ketika orang-orang mulai turun,
perempuan bercadar itu bergerak melangkah, ia menyempatkan untuk menyapaku,
“Indonesian, thank you.”
Aku teringat dia orang Jerman. Aku iseng menjawab dengan bahasa
Jerman,
“Bitte!”
Agaknya perempuan bercadar itu kaget mendengar jawabanku dengan
bahasa Jerman. Ia urung melangkah ke pintu. Ia malah menatap diriku dengan
sorat mata penuh tanda tanya.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
32
“Sprechen Sie Deutsch?”37 tanyanya dengan bahasa Jerman. Ia mungkin
ingin langsung meyakinkan dirinya bahwa apa yang tadi ia dengarkan dariku
benar-benar bahasa Jerman. Bahwa aku bisa berbahasa Jerman. Bahwa ia tidak
salah dengar.
“Ja, ein wenig.38Alhamdulillah!” jawabku tenang. Kalau sekadar
bercakap dengan bahasa Jerman insya Allah tidak terlalu susah. Kalau aku disuruh
membuat tesis dengan bahasa Jerman baru menyerah.
“Sind Sie Herr Fahri?”39
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Ia bertanya seperti itu. Berarti
ia benar-benar mendengarkan dengan baik pendebatanku dengan tiga orang Mesir
tadi sehingga tahu namaku. Atau dia mendengarkan aku berkenalan dengan
Alicia.
“Ja. Mein name ist Fahri.”40 Jawabku.
“Mein name ist Aisha,” sahutnya sambil menyerahkan kartu nama. Ia lalu
menyodorkan buku notes kecil dan pulpen.
“Bitte, schreiben Sie ihren namen!”41 katanya.
Kuterima buku notes kecil dan pulpen itu. Aku paham maksud Aisha,
tentu tidak sekadar nama tapi dilengkapi dengan alamat atau nomor telpon.
Masinis metro membunyikan tanda alarm bahwa sebentar lagi pintu metro akan
ditutup dan metro akan meneruskan perjalanan. Aku hanya menuliskan nama dan
nomor handphone-ku. Lalu kuserahkan kembali padanya. Aisha langsung
bergegas turun sambil berkata,
“Danke, auf wiedersehn!”42
“Auf wiedersehn!” jawabku.
Metro kembali berjalan. Ada tempat kosong. Saatnya aku duduk. Sudah
separuh perjalanan lebih. Sudah setengah dua lebih lima menit. Waktu masih
cukup. Insya Allah sampai di hadapan Syaikh Utsman tepat pada waktunya.
Kalaupun terlambat hanya beberapa menit saja. Masih dalam batas yang bisa
37 Kau berbicara bahasa Jerman.
38 Ya. Sedikit-sedikit.
39 Apakah Anda tuan Fahri.
40 Ya nama saya Fahri.
41 Maaf, bisa tuliskan nama Anda.
42 Terima kasih, sampai bertemu lagi.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
33
dimaafkan. Dengan duduk aku merasa lebih tenang. Ini saatnya aku mengulang
dan memperbaiki hafalan Al-Qur’an yang akan aku setorkan pada Syaikh Utsman.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
34
3. Keributan Tengah Malam
Aku sampai di flat jam lima lebih seperempat. Siang yang melelahkan.
Ubun-ubun kepalaku rasanya mendidih. Cuaca benar-benar panas. Yang
berangkat talaqqi pada Syaikh Utsman hanya tiga orang. Aku, Mahmoud dan
Hisyam. Syaikh Utsman jangan ditanya. Disiplin beliau luar biasa. Meskipun
cuma tiga yang hadir, waktu talaqqi tetap seperti biasa. Jadi, kami bertiga
membaca tiga kali lipat dari biasanya. Jatah membaca Al-Qur’an sepuluh orang
kami bagi bertiga. Untungnya masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq ber-AC. Jika tidak,
aku tak tahu seperti apa menderitanya kami. Mungkin konsentrasi kami akan
berantakan, dan kami tidak bisa membaca seperti yang diharapkan.
Seperti mengerti keinginan kami, begitu selesai talaqqi, Amu Farhat,
takmir masjid yang baik hati itu membawakan empat gelas tamar hindi43 dingin.
Bukan main segarnya ketika minuman segar itu menyentuh lidah dan
tenggorokan. Selesai minum aku pulang. Mahmoud, Hisyam, Amu Farhat dan
Syaikh Utsman meneruskan perbincangan menunggu ashar.
Perjalanan pulang ternyata lebih panas dari berangkat. Antara pukul
setengah empat hingga pukul lima adalah puncak panas siang itu. Berada di dalam
metro rasanya seperti berada dalam oven. Kondisi itu nyaris membuatku lupa
akan titipan Maria. Aku teringat ketika keluar dari mahattah Hadayek Helwan.
Ada dua toko alat tulis. Kucari di sana. Dua-duanya kosong.. Aku melangkah ke
Pyramid Com. Sebuah rental komputer yang biasanya juga menjual disket.
Malang! Rental itu tutup. Terpaksa aku kembali ke mahattah dan naik metro ke
Helwan. Di kota Helwan ada pasar dan toko-toko cukup besar. Di sana
kudapatkan juga disket itu. Aku beli empat. Dua untuk Maria. Dan dua untuk
diriku sendiri. Kusempatkan mampir ke masjid yang berada tepat di sebelah barat
mahattah Helwan untuk shalat ashar.
Terik matahari masih menyengat ketika aku keluar masjid untuk pulang.
Di tengah perjalanan aku melewati Universitas Helwan yang lengang. Hanya
seorang polisi berpakaian lusuh yang menjaga gerbangnya. Tampangnya
mengenaskan. Masih muda, tapi kurus kering. Seperti pohon pisang kering. Atau
43 Air buah asam.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
35
seperti dendeng di Saudi kala musim haji. Mukanya tampak kering. Panas sahara
seperti menghisap habis darahnya. Ia pasti prajurit wajib militer yang biasa
disebut duf’ah. Polisi paling menderita karena bertugas dengan sangat terpaksa.
Tanpa gaji memadai. Hanya beberapa pound saja. Wajar jika tampangnya
mengenaskan. Bisa jadi ia masih berstatus mahasiswa. Karena memang seluruh
laki-laki Mesir terkena wajib militer. Seorang kumsari44 mendekat. Ia gemuk,
kepalanya bulat penuh keringat. Perutnya buncit seperti balon mau meletus. Beda
sekali dengan polisi penjaga gerbang universitas itu. Dunia ini memang penuh
perbedaan-perbedaan dan hal-hal kontras yang terkadang tidak mudah dimengerti.
Metro terus melaju.
Sampai di flat, tenagaku nyaris habis. Kulepas sepatu dan kaos kaki lalu
masuk kamar. Sampai di kamar langsung kunyalakan kipas angin, kulepas tas,
topi, kaca mata hitam, dan kemeja putihku. Kuusap mukaku dengan tissu. Hitam.
Banyak debu menempel. Aku lalu beranjak ke ruang tengah, membuka lemari es,
mencari yang dingin-dingin untuk menyegarkan badan. Begitu membuka pintu
lemari es mataku membelalak berbinar. Ada sebotol ashir ashab.45 Dingin.
Kutuangkan untuk satu gelas. Sambil membawa gelas berisia ashir ashab aku
berteriak,
“Siapa nih yang beli ashir ashab. Pengertian sekali. Syukran ya. Semoga
umurnya diberkahi Allah.”
Rudi keluar dari kamarnya dengan wajah ceria.
“Mas. Ashir ashab itu bukan kami yang beli.”
“Terus dapat dari mana?”
“Tadi diberi oleh Maria.”
“Apa? Diberi oleh Maria?”
“Iya. Katanya untuk Mas. Makanya masih utuh satu botol. Kami tidak
menyentuhnya sebelum dapat izin dari Mas. Sekarang kami boleh ikut mencicipi
‘kan Mas?”
“Ah kamu ini ada-ada saja. Kalau ambil ya ambil saja. Yang penting aku
disisain. Pakai menunggu izin segala.”
44 Kondektur.
45 Sari air tebu. (Minuman paling memasyarakat di Mesir saat musim panas).
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
36
“Masalahnya ini dari Maria, Mas. Sepertinya puteri Tuan Boutros itu
perhatian sekali sama Mas. Jangan-jangan dia jatuh hati sama Mas.”
“Hus jangan ngomong sembarangan! Mereka itu memang tetangga yang
baik. Sejak awal kita tinggal di sini mereka sudah baik sama kita. Bukan sekali ini
mereka memberi sesuatu pada kita.”
“Tapi kenapa Maria bilang untuk Mas. Bukan untuk kita semua?”
“Lha ketahuan ‘kan? Kau cemburu, jangan-jangan kau yang jatuh cinta.
Ya udah nanti biar kusampaikan sama Maria dan Tuan Boutros ayahnya, kalau
memberi sesuatu biar yang disebut namamu hehehe.”
“Jangan Mas. Bukan itu maksudku?”
“Terus?”
“Tapi Maria sepertinya punya perhatian lebih pada Mas.”
“Akh Rudi, kamu jangan berprasangka yang bukan-bukan. Kamu ‘kan
tahu. Maria berbuat begitu atas nama keluaganya, atas petunjuk ayahnya yang
baik hati itu. Dan karena kepala keluarga di rumah ini adalah aku, maka tiap kali
memberi makanan, minuman atau menyampaikan sesuatu ya selalu lewat aku, as
a leader here. Dia menyampaikan sesuatu atas nama keluarganya dan aku
dianggap representasi kalian semua. Jadi ini bukan hanya interaksi dua person
saja, tapi dua keluarga. Bahkan lebih besar dari itu, dua bangsa dan dua penganut
keyakinan yang berbeda. Inilah keharmonisan hidup sebagai umat manusia yang
beradab di muka bumi ini. Sudahlah kau jangan memikirkan hal yang terlalu jauh.
Tugas kita di sini adalah belajar. Kita belajar sebaik-baiknya. Di antaranya adalah
belajar bertetangga yang baik. Karena kita telah diberi, ya nanti kita gantian
memberi sesuatu pada mereka. Wa idza huyyitum bi tahiyyatin fa hayyu bi
ahasana minha!”46
“Saya mengerti, Mas. Afwan jika ucapan saya tadi ada yang kurang
berkenan.”
“Udah jangan dipikir. Emm..bagaimana makalahmu? Sudah selesai?”
“Alhamdulillah, Mas.”
“Kapan dipresentasikan?”
“Sabtu sore.”
46 Dan jika kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah
penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya (QS. An-Nisaa’: 86)
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
37
“Di mana?”
“Di Wisma Nusantara.”
“Ma’at taufiq.”47
Aku melangkah ke kamar sambil membawa segelas ashir ashab.
Kuselonjorkan kakiku di atas karpet. Punggungku kusandarkan ke pinggir tempat
tidur. Untung tembok apartemen ini tebal. Jendelanya rapat. Sehingga udara panas
di luar apartemen tidak mudah menembus masuk. Meskipun agak hangat tapi
tidak sepanas di luar. Dan dengan kipas angin sudah cukup membuat udara yang
hangat itu menjadi sejuk. Kuteguk ashir ashab. Perlahan. Dingin mengaliri
tenggorokan. Oh luar biasa nikmatnya. Di kawasan beriklim panas, seperti Mesir
dan negara Timur Tengah lainnya, air dingin memang sangat menyenangkan. Jika
air dingin itu membasahi tenggorokan yang kering rasanya seperti meneguk air
sejuk dari surga, tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Orang yang kehausan di
tengah sahara yang paling ia damba dan ia cinta adalah air dingin penawar
dahaga. Tak ada yang lebih ia cinta dari itu. Di sinilah baru bisa kurasakan betapa
dahsyat doa baginda Nabi,
‘Ya Allah jadikanlah cintaku kepada-Mu melebihi cintaku pada harta,
keluarga dan air yang dingin’.
Beliau meminta agar cintanya kepada Allah melebihi cintanya pada air
yang dingin, yang sangat dicintai, disukai, dan diingini oleh siapa saja yang
kehausan di musim panas. Di daerah yang beriklim panas, cinta pada air yang
sejuk dingin dirasakan oleh siapa saja, oleh semua manusia. Jika cinta kepada
Allah telah melebihi cintanya seseorang yang sekarat kehausan di tengah sahara
pada air dingin, maka itu adalah cinta yang luar biasa. Sama saja dengan melebihi
cinta pada nyawa sendiri. Dan memang semestinya demikianlah cinta sejati
kepada Allah Azza Wa Jalla. Jika direnungkan benar-benar, baginda Nabi
sejatinya telah mengajarkan idiom cinta yang begitu indah.
Setelah keringat hilang, dan ubun-ubun kepala mulai dingin aku bangkit
hendak mengambil handuk. Aku harus mandi, badan rasanya tidak nyaman. Harus
dibersihkan dan disegarkan. Baru menyentuh handuk, handphone-ku memerik
singkat. Ada sms masuk. Kubuka. Dari Maria,
47 Semoga sukses.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
38
“Sudah pulang ya? Bagaimana dengan titipanku, dapat?”
Langsung kujawab,
“Dapat. Terima kasih atas ashir ashabnya.”
Kuletakkan handphone-ku di atas meja. Aku langsung bergegas mandi.
Baru menutup kamar mandi yang bersebelahan dengan kamarku, kudengar si
handphone memekik lagi. Maria pasti mengirim pesan balik. Ah, biar, nanti saja
setelah mandi. Kuputar kran wastafel. Aku ingin cuci tangan. Air mengalir.
Kusentuh. Hangat sekali. Berarti pipa-pipa yang berada di dalam tanah berpasir
yang mengalirkan air dari tandon raksasa itu telah panas. Aku jadi teringat saat
umrah ke Saudi di puncak musim panas tahun lalu. Baik siang atau pun malam,
kalau hendak mandi harus mendinginkan air dulu di ember besar. Sebab air yang
keluar dari kran sangat panas. Harus ditampung di ember besar dan ditunggu
sampai dingin. Kulihat bath-tub penuh dengan air. Alhamdulillah, teman-teman
sangat pengertian dan cerdas. Aku bisa langsung mandi tanpa menunggu air
dingin. Ketika air menyiram seluruh tubuh rasa segar itu susah diungkapkan
dengan bahasa verbal. Habis mandi tenaga rasanya pulih kembali.
Usai berganti pakaian kurebahkan diriku di atas kasur. Oh, alangkah
nikmatnya. Ini saatnya istirahat. Kunyalakan tape kecil di samping tempat tidur.
Enaknya adalah memutar murattal48 Syaikh Abu Bakar Asy-Syathiri. Suaranya
yang sangat lembut dan indah penuh penghayatan dalam membaca Al-Qur’an
sering membawa terbang imajinasiku ke tempat-tempat sejuk. Ke sebuah danau
bening di tengah hutan yang penuh buah-buahan. Kadang ke suasana senja yang
indah di tepi pantai Ageeba, pantai laut Mediterania yang menakjubkan di Mersa
Mathruh. Bahkan bisa membawaku ke dunia lain, dunia indah di dalam laut
dengan ikan-ikan hias dan bebatuan yang seperti permata-permata di surga. Dalam
keadaan lelah selalu saja suara Syaikh Abu Bakar Asy-Syathiri menjadi musik
pengantar tidur yang paling nikmat. Meski terkadang aku harus terlebih dahulu
meneteskan air mata, kala mendengar Syaikh Syathiri sesengukan menangis
dalam bacaannya. Kunyalakan murattal Syaikh Syatiri. Suaranya yang indah
langsung mengelus-elus syaraf-syarafku. Mataku mulai liyer-liyer hendak
48 Kaset yang merekam Al-Qur’an dibaca secara tartil.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
39
terpejam. Tiba-tiba handphone-ku kembali memekik. Aku teringat sesuatu.
Titipan Maria. Kubaca pesan Maria.
Ada tiga pesan:
“Buka jendela sekarang. Aku akan turunkan keranjang.”
“Kau sedang apa? Aku sudah turunkan keranjang. Lama sekali.”
“Kenapa tidak ada respons?”
Aduh, kasihan Maria. Dia tadi sudah lama membuka jendelanya dan
menurunkan keranjang.
Langsung kujawab,
“Afwan. Tadi saya langsung mandi. Jadi tiga pesanmu terakhir baru
kubuka setelah mandi. Afwan. Sekarang bisa kau turunkan keranjang.”
Kutunggu respons darinya. Tak lama pesannya masuk,
“O, begitu. Tak apa-apa. Ini kuturunkan keranjangnya.”
Aku bangkit dari tempat tidur. Mengambil dua disket dalam tas. Lalu
menuju jendela. Kubuka jendela. Hawa panas langsung masuk. Sebuah keranjang
kecil dijulurkan dengan tambang kecil putih dari atas. Ada uang sepuluh pound di
dalamnya. Kuletakkan dua disket itu dalam keranjang tanpa menyentuh uang
sepuluh pound itu sama sekali.
Kamar Maria memang tepat di atas kamarku, dan jendela kamarnya tepat
di atas jendela kamarku. Orang Mesir yang berada di atas lantai dua biasanya
memiliki keranjang kecil yang seringkali digunakan untuk suatu keperluan tanpa
harus turun ke bawah. Jika ibu-ibu Mesir belanja buah-buahan atau sayur-sayuran
pada penjual buah atau penjual sayur keliling, biasanya mereka menggunakan
keranjang kecil itu, tanpa harus turun dari rumah mereka yang berada di atas.
Mereka cukup pesan berapa kilo, setelah sepakat harganya mereka menurunkan
keranjang kecil yang di dalamnya sudah ada uang untuk membayar barang yang
dipesannya. Tukang buah atau tukang sayur akan mengisi keranjang itu dengan
barang yang dipesan setelah mengambil uangnya. Jika uangnya lebih, mereka
akan mengembalikannya sekaligus bersama barang yang dipesan. Barulah si ibu
mengangkat keranjangnya seperti orang menimba. Transaksi yang praktis.
Pertama kali melihat aku heran. Yang aku herankan adalah begitu amanah-nya
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi








