»celebrity news, travel guide, online business, technology



Silahkan Baca Cerita kisah cinta Novel ayat-ayat cinta ini tanpa download bagian 3


Lanjutan novel ayat-ayat cinta hal 21-30 (update tiap hari) mohon maaf, wordpress tidak sanggup menampung text yang banyak, sudah saya coba paste hal 21-40, tapi gagal, tampilan kosong.
Jadi terpaksa saya paste per 10 halaman, dari total 314 halaman.

Untuk melihat halaman sebelumnya bisa menggunakan category Novel di sebelah kanan.

pasar Sayyeda Zainab aku pernah melihat seorang penjual ikan marah-marah pada
isterinya. Entah karena apa. Ia menghujani isterinya dengan sumpah serapah yang
sangat kasar dan tidak nyaman di dengar telinga. Di antara kata-kata kasar yang
kudengar adalah: Ya bintal haram, ya syarmuthah, ya bintal khinzir…!26 Bulu
romaku sampai berdiri. Ngeri mendengarnya. Sang isteri juga tak mau kalah. Ia
membalas dengan caci maki dan serapah yang tak kalah keras dan kotornya. Dan
sumpah serapah yang mengandung laknat adalah termasuk paling kasar.
Telingaku paling tidak suka mendengar caci mencaci, apalagi umpatan
melaknat. Tak ada yang berhak melaknat manusia kecuali Tuhan. Manusia jelasjelas
telah dimuliakan oleh Tuhan. Tanpa membedakan siapa pun dia. Semua
manusia telah dimuliakan Tuhan sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an, Wa laqad
karramna banii Adam. Dan telah Kami muliakan anak keturunan Adam! Jika
Tuhan telah memuliakan manusia, kenapa masih ada manusia yang mencaci dan
melaknat sesama manusia? Apakah ia merasa lebih tinggi martabatnya daripada
Tuhan?
Tindakan Ashraf melaknat tiga turis Amerika itu sangat aku sesalkan.
Tindakannya jauh dari etika Al-Qur’an, padahal dia tiap hari membaca Al-Qur’an.
Ia telah menamatkan qiraah riwayat Imam Hafsh. Namun ia berhenti pada cara
membacanya saja, tidak sampai pada penghayatan ruh kandungannya. Semoga
Allah memberikan petunjuk di hatinya.
Yang aku herankan, dalam kondisi panas seperti ini, kenapa bule-bule itu
ada di dalam metro. Seandainya mau bepergian kenapa tidak memakai limousin
atau taksi yang ber-AC. Dalam hati aku merasa kasihan pada mereka. Mereka
seperti tersiksa. Basah oleh keringat. Wajah dan kulit mereka kemerahan. Yang
paling kasihan adalah yang nenek-nenek. Beberapa kali ia menenggak air mineral.
Mukanya tetap saja pucat. Mereka tidak biasa kepanasan seperti ini. Aku jadi
teringat Majidov, teman dari Rusia. Ia sangat tidak tahan dengan panasnya Mesir.
Ia tinggal di Madinatul Bu’uts, atau biasa disebut Bu’uts saja. Yaitu asrama
mahasiswa Al Azhar dari seluruh penjuru dunia. Di Bu’uts tidak ada AC-nya. Jika
musim panas tiba dia akan hengkang dari Bu’uts dan menyewa flat bersama
beberapa temannya di kawasan Rab’ah El-Adawea. Mencari yang ada AC-nya.
26 Ya bintal haram (Hai anak haram/anak hasil perzinaan), Ya Syarmuthah (Hai pelacur), Ya
bintal khinzir (Hai anak babi).
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
21
Tapi tidak semua mahasiswa dari Rusia seperti Majidov. Banyak juga yang tahan
dengan musim panas.
Tak ada yang bergerak mempersilakan nenek bule itu untuk duduk. Ini
yang aku sesalkan. Beberapa lelaki muda atau setengah baya yang masih kuat
tetap saja tidak mau berdiri dari tempat duduk mereka. Biasanya, begitu melihat
orang tua, apalagi nenek-nenek, beberapa orang langsung berdiri menyilakan
duduk. Tapi kali ini tidak. Lelaki bule itu mengajak bicara seorang pemuda Mesir
berbaju kotak-kotak lengan pendek yang duduk di dekatnya. Sekilas di antara deru
metro kutangkap maksud perkataan si bule. Ia minta kepada pemuda Mesir itu
memberi kesempatan pada ibunya yang sudah tua untuk duduk. Mereka bertiga
akan turun di Tahrir. Tapi pemuda Mesir itu sama sekali tidak menanggapinya.
Entah kenapa. Apa karena dia tidak paham bahasa Inggris, atau karena
ketidaksukaannya pada orang Amerika? Aku tidak tahu.
Nenek bule itu kelihatannya tidak kuat lagi berdiri. Ia hendak duduk
menggelosor di lantai. Belum sampai nenek bule itu benar-benar menggelosor,
tiba-tiba perempuan bercadar yang tadi kupersilakan duduk itu berteriak
mencegah,
“Mom, wait! Please, sit down here!”
Perempuan bercadar biru muda itu bangkit dari duduknya. Sang nenek
dituntun dua anaknya beranjak ke tempat duduk. Setelah si nenek duduk,
perempuan bule muda berdiri di samping perempuan bercadar. Aku melihat
pemandangan yang sangat kontras. Sama-sama perempuan. Yang satu auratnya
tertutup rapat. Tak ada bagian dari tubuhnnya yang membuat jantung lelaki
berdesir. Yang satunya memakai pakaian sangat ketat, semua lekak-lekuk
tubuhnya kelihatan, ditambah basah keringatnya bule itu nyaris seperti telanjang.
“Thank you. It’s very kind of you!” Perempuan bule muda mengungkapkan
rasa terima kasih pada perempuan bercadar.
“You’re welcome,” lirih perempuan bercadar. Bahasa Inggrisnya bagus.
Sama sekali tak kuduga. Keduanya lalu berkenalan dan berbincang-bincang.
Perempuan bercadar minta maaf atas perlakuan saudara seiman yang mungkin
kurang ramah. Ternyata lebih dari yang kunilai. Perempuan bercadar itu benarbenar
berbicara sefasih orang Inggris. Biasanya orang Mesir sangat susah
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
22
berbahasa Inggris dengan fasih. Kata ‘friend’ selalu mereka ucapan ‘bren’. Huruf
‘f’ jadi ‘b’. Aku sering geli mendengarnya. Tapi perempuan bercadar ini sungguh
fasih. Lebih fasih dari pembaca berita Nile TV. Perempuan bule tersenyum dan
berkata,
“Oh not at all. It’s all right. Cuaca memang panas dan melelahkan.
Semuanya lelah. Dalam keadaan lelah terkadang susah untuk mengalah. Dan itu
sangat manusiawi.”
“Busyit! Hei perempuan bercadar, apa yang kau lakukan!”
Pemuda berbaju kotak-kotak bangkit dengan muka merah. Ia berdiri tepat
di samping perempuan bercadar dan membentaknya dengan kasar. Rupanya ia
mendengar dan mengerti percakapan mereka berdua.
Perempuan bercadar kaget. Namun aku tidak bisa menangkap raut
kagetnya sebab mukanya tertutup cadar. Yang bisa kutangkap adalah gerakan
kepalanya yang terperangah, kedua matanya yang sedikit menciut, kulit putih
antara dua matanya sedikit mengkerut, alisnya seperti mau bertemu.
“Hal a..ana khata’?”27 Ucap perempuan bercadar tergagap. Ia memakai
bahasa fusha28, bukan bahasa ‘amiyah.29 Maksudnya bisa dipahami, tapi
susunannya janggal. Apakah mungkin karena dirinya terlalu kaget atas bentakan
pemuda Mesir itu.
Mendengar jawaban seperti itu si pemuda malah semakin naik pitam. Ia
kembali membentak dan memaki-maki secara kasar dengan bahasa ‘amiyah,
“Yakhrab baitik!30 Kau telah menghina seluruh orang Mesir yang ada di
metro ini. Kau sungguh keterlaluan! Kelihatannya saja bercadar, sok alim, tapi
sebetulnya kau perempuan bangsat! Kau kira kami tidak tahu sopan-santun apa?
Sengaja kami mengacuhkan orang Amerika itu untuk sedikit memberi pelajaran.
Ee..bukannya kau mendukung kami. Kau malah mempersilakan setan-setan bule
itu duduk. Dan seolah paling baik, kau sok jadi pahlawan dengan memintakan
maaf atas nama kami semua. Kau ini siapa, heh?”
27 Hal ana khata’ ? Maksudnya, apakah saya salah? Susunannya yang tepat adalah Hal ana
mukhthi’ah?
28 Bahasa Arab yang fashih secara gramatikal, bukan bahasa pergaulan.
29 Bahasa Arab pergaulan, yang biasa digunakan dalam percakapan harian.
30 Yakhrab baitik! (Artinya secara bahasa semoga rumahmu roboh, biasanya digunakan untuk
mengumpat dalam bahasa Jawa senada dengan kata-kata: Bajingan! Dancouk! Dan sejenisnya).
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
23
Pemuda itu sudah keterlaluan. Aku berharap ada yang bertindak. Ashraf
dan seorang lelaki setengah baya berpakaian abu-abu mendekati pemuda dan
perempuan bercadar. Aku sedikit lega.
“Kau memang sungguh kurang ajar perempuan! Kau membela bule-bule
Amerika yang telah membuat bencana di mana-mana. Di Afganistan. Di
Palestina. Di Irak dan di mana-mana. Mereka juga tiada henti-hentinya
menggoyang negara kita. Kau ini muslimah macam apa, hah!?” Ashraf marah
sambil menuding-nuding perempuan bercadar itu.
Aku kaget bukan main. Aku tak mengira Ashraf akan berkata sekasar itu.
Kelegaanku berubah jadi kekecewaan mendalam.
“Meski kau bercadar dan membawa mushaf ke mana-mana, nilaimu tak
lebih dari seorang syarmuthah!”31 umpat lelaki berpakaian abu-abu.
Ini sudah keterlaluan. Menuduh seorang perempuan baik-baik sehina
pelacur tidak bisa dibenarkan.
Aku membaca istighfar dan shalawat berkali-kali. Aku sangat kecewa
pada mereka. Perempuan bercadar itu diam seribu bahasa. Matanya berkaca-kaca.
Bentakan, cacian, tudingan dan umpatan yang ditujukan padanya memang sangat
menyakitkan. Aku tak bisa diam. Kucopot topi yang menutupi kopiah putihku.
Lalu aku mendekati mereka sambil mencopot kaca mata hitamku.
“Ya jama’ah, shalli ‘alan nabi, shalli ‘alan nabi!”32 ucapku pada mereka
sehalus mungkin. Cara menurunkan amarah orang Mesir adalah dengan mengajak
membaca shalawat. Entah riwayatnya dulu bagaimana. Di mana-mana, di seluruh
Mesir, jika ada orang bertengkar atau marah, cara melerai dan meredamnya
pertama-tama adalah dengan mengajak membaca shalawat. Shalli ‘alan nabi,
artinya bacalah shalawat ke atas nabi. Cara ini biasanya sangat manjur.
Benar, mendengar ucapanku spontan mereka membaca shalawat. Juga
para penumpang metro lainnya yang mendengar. Orang Mesir tidak mau
dikatakan orang bakhil. Dan tiada yang lebih bakhil dari orang yang mendengar
nama nabi, atau diminta bershalawat tapi tidak mau mengucapkan shalawat.
Begitu penjelasan Syaikh Ahmad waktu kutanyakan ihwal cara aneh orang Mesir
31 Syarmuthah: Pelacur.
32 Wahai Jamaah (untuk menyapa orang banyak)! Bacalah shalawat ke atas nabi, bacalah
shalawat ke atas nabi!
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
24
dalam meredam amarah. Justru jika ada orang sedang marah lantas kita bilang
padanya, La taghdhab! (yang artinya: jangan marah!) terkadang malah akan
membuat ia semakin marah.
Lalu aku menjelaskan pada mereka bahwa yang dilakukan perempuan
bercadar itu benar. Bukanya menghina orang Mesir, justru sebaliknya. Dan
umpatan-umpatan yang ditujukan padanya itu sangat tidak sopan dan tidak bisa
dibenarkan. Aku beberkan alasan-alasan kemanusiaan. Mereka bukannya sadar,
tapi malah kembali naik pitam. Si pemuda marah dan mencela diriku dengan
sengit. Juga si bapak berpakaian abu-abu. Sementara Ashraf bilang, “Orang
Indonesia, sudahlah, kau jangan ikut campur urusan kami!”
Aku kembali mengajak mereka membaca shalawat. Aku nyaris kehabisan
akal. Akhirnya kusitir beberapa hadits nabi untuk menyadarkan mereka. Tapi
orang Mesir seringkali muncul besar kepalanya dan merasa paling menang
sendiri.
Pemuda Mesir malah menukas sengak, “Orang Indonesia, kau tahu apa
sok mengajari kami tentang Islam, heh! Belajar bahasa Arab saja baru kemarin
sore. Juz Amma entah hafal entah tidak. Sok pintar kamu! Sudah kau diam saja,
belajar baik-baik selama di sini dan jangan ikut campur urusan kami!”
Aku diam sesaat sambil berpikir bagaimana caranya menghadapi anak
turun Fir’aun yang sombong dan keras kepala ini. Aku melirik Ashraf. Mata kami
bertatapan. Aku berharap dia berlaku adil. Dia telah berkenalan denganku tadi.
Kami pernah akrab meskipun cuma sesaat. Kupandangi dia dengan bahasa mata
mencela. Ashraf menundukkan kepalanya, lalu berkata,
“Kapten, kau tidak boleh berkata seperti itu. Orang Indonesia ini sudah
menyelesaikan licence-nya di Al Azhar. Sekarang dia sedang menempuh program
magisternya. Walau bagaimana pun, dia seorang Azhari. Kau tidak boleh
mengecilkan dia. Dia hafal Al-Qur’an. Dia murid Syaikh Utsman Abdul Fattah
yang terkenal itu.”
Pembelaan Ashraf ini sangat berarti bagiku. Pemuda berbaju kotak-kotak
itu melirik kepadaku lalu menunduk. Mungkin dia malu telah berlaku tidak sopan
kepadaku. Tetapi lelaki berpakaian abu-abu kelihatannya tidak mau menerima
begitu saja.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
25
“Dari mana kau tahu? Apa kau teman satu kuliahnya?” tanyanya.
Ashraf tergagap, “Tidak. Aku tidak teman kuliahnya. Aku tahu saat
berkenalan dengannya tadi.”
“Kau terlalu mudah percaya. Bisa saja dia berbohong. Program magister di
Al Azhar tidak mudah. Jadi murid Syaikh Utsman juga tidak mudah.” Lelaki itu
mencela Ashraf. Dia lalu berpaling ke arahku dan berkata, “Hei orang Indonesia,
kalau benar kau S.2. di Al Azhar mana kartumu!?”
Lelaki itu membentak seperti polisi intel. Berurusan dengan orang awam
Mesir yang keras kepala memang harus sabar. Tapi jika mereka sudah tersentuh
hatinya, mereka akan bersikap ramah dan luar biasa bersahabat. Itulah salah satu
keistimewaan watak orang Mesir. Terpaksa kubuka tas cangklongku. Kuserahkan
dua kartu sekaligus. Kartu S.2. Al Azhar dan kartu keanggotaan talaqqi qiraah
sab’ah dari Syaikh Utsman. Tidak hanya itu, aku juga menyerahkan selembar
tashdiq33 resmi dari universitas. Tasdiq yang akan kugunakan untuk
memperpanjang visa Sabtu depan.
Lelaki setengah baya lalu meneliti dua kartu dan tashdiq yang masih gres
itu dengan seksama. Ia manggut-manggut, kemudian menyerahkannya pada
pemuda berbaju kotak-kotak yang keras kepala yang ada di sampingnya.
“Kebetulan saat ini saya sedang menuju masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq
untuk talaqqi. Kalau ada yang mau ikut menjumpai Syaikh Utsman boleh
menyertai saya.” Ujarku tenang penuh kemenangan.
Kulihat wajah mereka tidak sepitam tadi. Sudah lebih mencair. Bahkan
ada gurat rasa malu pada wajah mereka. Jika kebenaran ada di depan mata, orang
Mesir mudah luluh hatinya.
“Maafkan kelancangan kami, Orang Indonesia. Tapi perempuan bercadar
ini tidak pantas dibela. Ia telah melakukan tindakan bodoh!” kata pemuda Mesir
berbaju kotak-kotak sambil menyerahkan kembali dua kartu dan tashdiq
kepadaku.
33 Tashdiq adalah surat keterangan resmi dari Universitas, bahwa pemiliknya benar-benar
mahasiswa pada fakultas, jurusan dan program tertentu di universitas itu. Tashdiq biasanya
diperlukan untuk urusan-urusan resmi. Misalnya perpanjangan visa belajar, pengambilan visa haji,
meminta atau memperpanjang beasiswa pada suatu lembaga dan lain sebagainya.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
26
Aku menghela nafas panjang. Metro melaju kencang menembus udara
panas. Sesekali debu masuk berhamburan.
“Terus terang, aku sangat kecewa pada kalian! Ternyata sifat kalian tidak
seperti yang digambarkan baginda Nabi. Beliau pernah bersabda bahwa orangorang
Mesir sangat halus dan ramah, maka beliau memerintahkan kepada
shahabatnya, jika kelak membuka bumi Mesir hendaknya bersikap halus dan
ramah. Tapi ternyata kalian sangat kasar. Aku yakin kalian bukan asli orang
Mesir. Mungkin kalian sejatinya sebangsa Bani Israel. Orang Mesir asli itu seperti
Syaikh Muhammad Mutawalli Sya’rawi yang ramah dan pemurah,” ucapku datar.
Aku yakin akan membuat hati orang Mesir yang mendengarnya bagaikan
tersengat aliran listrik.
“Maafkan kami, Orang Indonesia. Kami memang emosi tadi. Tapi jangan
kau katakan kami bukan orang Mesir. Jangan pula kau katakan kami ini sebangsa
Bani Israel. Kami asli Mesir. Kami satu moyang dengan Syaikh Sya’rawi
rahimahullah,” lelaki setengah baya itu tidak terima. Syaikh Sya’rawi memang
seorang ulama yang sangat merakyat. Sangat dicintai orang Mesir. Hampir semua
orang Mesir mengenal dan mencintai beliau. Mereka sangat bangga memiliki
seorang Sya’rawi yang dihormati di seantero penjuru Arab.
“Yang aku tahu, selama ini, orang Mesir asli sangat memuliakan tamu.
Orang Mesir asli sangat ramah, pemurah, dan hatinya lembut penuh kasih sayang.
Sifat mereka seperti sifat Nabi Yusuf dan Nabi Ya’qub. Syaikh Sya’rawi, Syaikh
Abdul Halim Mahmud, Syaikh Muhammad Ghazali, Syaikh Muhammad Hasan,
Syaikh Kisyk, Syaikh Muhammad Jibril, Syaikh Athea Shaqr, Syaikh Ismail
Diftar, Syaikh Utsman dan ulama lainnya adalah contoh nyata orang Mesir asli
yang berhati lembut, sangat memuliakan tamu dan sangat memanusiakan
manusia. Tapi apa yang baru saja kalian lakukan?! Kalian sama sekali tidak
memanusiakan manusia dan tidak punya rasa hormat sedikit pun pada tamu
kalian. Orang bule yang sudah nenek-nenek itu adalah tamu kalian. Mereka
bertiga tamu kalian. Tetapi kenapa kalian malah melaknatnya. Dan ketika saudari
kita yang bercadar ini berlaku sebagai seorang muslimah sejati dan sebagai
seorang Mesir yang ramah, kenapa malah kalian cela habis-habisan!? Kalian
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
27
bahkan menyumpahinya dengan perkataan kasar yang sangat menusuk perasaan
dan tidak layak diucapkan oleh mulut orang yang beriman! ”
“Tapi Amerika sudah keterlaluan! Apa salah jika kami sedikit saja
mengungkapkan kejengkelan kami dengan memberi pelajaran sedikit saja pada
orang-orang Amerika itu?!” Lelaki setengah baya masih berusaha membenarkan
tindakannya. Aku tidak merasa aneh. Begitulah orang Mesir, selalu merasa benar.
Dan nanti akan luluh jika berhadapan dengan kebenaran yang seterang matahari.
“Kita semua tidak menyukai tindak kezhaliman yang dilakukan siapa saja.
Termasuk yang dilakukan Amerika. Tapi tindakan kalian seperti itu tidak benar
dan jauh dari tuntunan ajaran baginda Nabi yang indah.”
“Lalu kami harus berbuat apa dan bagaimana? Ini mumpung ada orang
Amerika. Mumpung ada kesempatan. Dengan sedikit pelajaran mereka akan tahu
bahwa kami tidak menyukai kezhaliman mereka. Biar nanti kalau pulang ke
negaranya mereka bercerita pada tetangganya bagaimana tidak sukanya kami pada
mereka!”
“Justru tindakan kalian yang tidak dewasa seperti anak-anak ini akan
menguatkan opini media massa Amerika yang selama ini beranggapan orang
Islam kasar dan tidak punya perikemanusiaan. Padahal baginda Rasul
mengajarkan kita menghormati tamu. Apakah kalian lupa, beliau bersabda, siapa
yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hormatilah tamunya. Mereka
bertiga adalah tamu di bumi Kinanah ini. Harus dihormati sebaik-baiknya. Itu jika
kalian merasa beriman kepada Allah dan hari akhir. Jika tidak, ya terserah!
Lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan. Tapi jangan sekali-kali kalian
menamakan diri kalian bagian dari umat Islam. Sebab tindakan kalian yang tidak
menghormati tamu itu jauh dari ajaran Islam.”
Lelaki setengah baya itu diam. Pemuda berbaju kotak-kotak menunduk.
Ashraf membisu. Para penumpang yang lain, termasuk perempuan bercadar juga
diam. Metro terus berjalan dengan suara bergemuruh, sesekali mencericit.
“Coba kalian jawab pertanyaanku ini. Kenapa kalian berani menyakiti
Rasulullah?!” tanyaku sambil memandang ketiga orang Mesir bergantian. Mereka
agak terkejut mendengar pertanyaanku itu.
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
28
“Akhi, mana mungkin kami berani menyakiti Rasulullah yang kami
cintai,” jawab Ashraf.
“Kenapa kalian kelak di hari akhir berani berseteru di hadapan Allah
melawan Rasulullah?” tanyaku lagi.
“Akhi, kau melontarkan pertanyaan gila. Kita semua di hari akhir kelak
mengharap syafaat Rasulullah, bagaimana mungkin kami berani berseteru dengan
beliau di hadapan Allah!” jawab Ashraf.
“Tapi kalian telah melakukan tindakan sangat lancang. Kalian telah
menyakiti Rasulullah. Kalian telah menantang Rasulullah untuk berseteru di
hadapan Allah kelak di hari akhir!” ucapku tegas sedikit keras.
Lelaki setengah baya, Ashraf, pemuda berbaju kotak-kotak dan beberapa
penumpang metro yang mendengar ucapanku semuanya tersentak kaget.
“Apa maksudmu, Andonesy? Kau jangan bicara sembarangan!” jawab
lelaki setengah baya sedikit emosi.
“Paman, aku tidak berkata sembarangan. Aku akan sangat malu pada
diriku sendiri jika berkata dan bertindak sembarangan. Baiklah, biar aku jelaskan.
Dan setelah aku jelaskan kalian boleh menilai apakah aku berkata sembarangan
atau bukan. Harus kalian mengerti, bahwa ketiga orang bule ini selain tamu kalian
mereka sama dengan ahlu dzimmah. Tentu kalian tahu apa itu ahlu dzimmah.
Disebut ahlu dzimmah karena mereka berada dalam jaminan Allah, dalam
jaminan Rasul-Nya, dan dalam jaminan jamaah kaum muslimin. Ahlu dzimmah
adalah semua orang non muslim yang berada di dalam negara tempat kaum
muslimin secara baik-baik, tidak ilegal, dengan membayar jizyah dan mentaati
peraturan yang ada dalam negara itu. Hak mereka sama dengan hak kaum
muslimin. Darah dan kehormatan mereka sama dengan darah dan kehormatan
kaum muslimin. Mereka harus dijaga dan dilindungi. Tidak boleh disakiti sedikit
pun. Dan kalian pasti tahu, tiga turis Amerika ini masuk ke Mesir secara resmi.
Mereka membayar visa. Kalau tidak percaya coba saja lihat paspornya. Maka
mereka hukumnya sama dengan ahlu dzimmah. Darah dan kehormatan mereka
harus kita lindungi. Itu yang diajarkan Rasulullah Saw. Tidakkah kalian dengar
sabda beliau, ‘Barangsiapa menyakiti orang zhimmi (ahlu zhimmah) maka aku
akan menjadi seterunya. Dan siapa yang aku menjadi seterunya dia pasti kalah di
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
29
hari kiamat.’34 Beliau juga memperingatkan, ‘Barangsiapa yang menyakiti orang
dzimmi, dia telah menyakiti diriku dan barangsiapa menyakiti diriku berarti dia
menyakiti Allah.’35 Begitulah Islam mengajarkan bagaimana memperlakukan non
muslim dan para tamu asing yang masuk secara resmi dan baik-baik di negara
kaum muslimin. Imam Ali bahkan berkata, ‘Begitu membayar jizyah, harta
mereka menjadi sama harus dijaganya dengan harta kita, darah mereka sama
nilainya dengan darah kita.’ Dan para turis itu telah membayar visa dan ongkos
administrasi lainnya, sama dengan membayar jizyah. Mereka menjadi tamu resmi,
tidak ilegal, maka harta, kehormatan dan darah mereka wajib kita jaga bersamasama.
Jika tidak, jika kita sampai menyakiti mereka, maka berarti kita telah
menyakiti baginda Nabi, kita juga telah menyakiti Allah. Kalau kita telah lancang
berani menyakiti Allah dan Rasul-Nya, maka siapakah diri kita ini? Masih
pantaskan kita mengaku mengikuti ajaran baginda Nabi?”
Lelaki setengah baya itu tampak berkaca-kaca. Ia beristighfar berkali-kali.
Lalu mendekati diriku. Memegang kepalaku dengan kedua tangannya dan
mengecup kepalaku sambil berkata, “Allah yaftah ‘alaik, ya bunayya! Allah
yaftah ‘alaik! Jazakallah khaira!”36 Ia telah tersentuh. Hatinya telah lembut.
Setelah itu giliran Ashraf merangkulku.
“Senang sekali aku bertemu dengan orang sepertimu, Fahri!” katanya.
Aku tersenyum, ia pun tersenyum. Pemuda berbaju kotak-kotak lalu
mempersilakan pria bule yang berdiri di dekat neneknya untuk duduk di tempat
duduknya. Dua pemuda Mesir yang duduk di depan nenek bule berdiri dan
mempersilakan pada perempuan bercadar dan perempuan bule untuk duduk.
Begitulah.
Salah satu keindahan hidup di Mesir adalah penduduknya yang lembut
hatinya. Jika sudah tersentuh mereka akan memperlakukan kita seumpama raja.
Mereka terkadang keras kepala, tapi jika sudah jinak dan luluh mereka bisa
melakukan kebaikan seperti malaikat. Mereka kalau marah meledak-ledak tapi
kalau sudah reda benar-benar reda dan hilang tanpa bekas. Tak ada dendam di
34 Diriwayatkan oleh Al-Khathib dengan sanad baik.
35 Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dengan sanad baik.
36 Semoga Allah membuka hatimu (menambahkan ilmumu) Anakku! Dan semoga Allah
membalasmu dengan kebaikan!
AYAT AYAT CINTA
Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi
30



top blog directory credit cards tips canadian dating Busby SEO Test tribal tattoo best seller books online lingerie store